Jelas sangat telat jika saya mengeposkan tentang hal ini sekarang. Barangkali bisa bermanfaat untuk yang akan datang.
Tak terasa sebentar lagi tahun akan segera berganti. Tahun baru akan datang dengan berjuta rahasia yang Allah telah persiapkan bagi insan manusia. Memang seolah waktu berotasi dengan cepat. Kenyataannya bukan, waktu berjalan seperti biasanya, kecepatannya juga konstan. Hanya saja pikiran kita yang terkadang memiliki persepsi seperti itu. Meskipun tahun akan berakhir, bukan berarti perjuangan kita di bumi Allah berakhir. Semangat baru justru muncul kembali, berharap tahun yang akan datang banyak kenangan indah membekas dalam rangka ketaatan kita kepada sang Maha Pemberi Kehidupan.
Penghujung tahun juga tentunya mengharuskan kita untuk senantiasa berintrospeksi diri, bermuhasabah atas segala aktivitas yang telah kita lakukan selama setahun ke belakang. Aktivitas amaliah apa yang patut kita banggakan di mata Allahselama setahun ini? Aktivitas dalam koridor kemaksiatanjuga menjadi bahna renungan. Tentu harapannya menjadi pelecut motivasi agar menjadi lebih baik di tahun berikutnya. Waktu tak terbuang dengan sia sia, aktivitas amal juga semakin tumbuh berkembang, aktivitas kemaksiatan semakin menipis. Budaya tobat makin kental. InsyaAllah, semoga senantiasa kita perjuangkan.
Namun, momen akhir tahun sudah mengalami degradasi secara menyeluruh. Tak ada lagi kesan mendalam, refleksi budaya muhasabah juga terasa memudar. Tak ada lagi sentuhan Ukhrowi untuk mempertebal keimanan sekaligus ketakwaan. Penghujung tahun serta hari pertama tahun baru masehi justru menjadi momen yang sangat berharga bagi sebagian orang, dengan berbagai macam pesta 'jahiliyah' untuk menyambut tahun baru. Pesta muhasabah bukan lagi menjadi pilihan, mereka sudah terlena akan kenikamatan yang secara kasat mata seolah indah. Indah di mata tapi bukan indah di hati. Karena Hati butuh kedamaian. Hati butuh ketenangan. Ketenangan di penghujung tahun tentunya bukan dengan pesta jahiliyah.
Di negeri kita, pesta jahiliyah menjadi sebuah agenda rutin saat malam pergantian tahun baru masehi. para muda-mudi begadang larut malam untuk menunggu pukul 00.00 tiba. Apabila waktunya telah tiba, mereka bergembira dan serentak meniup terompet dan berpesta kembang api. Pawai sepeda motor pun dimulai dengan menarik gas sepenuhnya disertai yel yel yang memekakkan telinga. Panggung-panggung hiburan konser musik digelar di berbagai tempat, di alun-alun, di THR, maupun di tempat-tempat rekreasi lainnya. Campur baur antara muda-mudi, bergandengan tangan dengan lawan jenis (yang memang telah direncanakan sebelumnya oleh pasangan muda mudi tersebut), helak tawa dan canda, isapan rokok yang bagaikan asap dari cerobong pabrik, serta berbagai minuman menjadi teman akrab yang senantiasa menyertai mereka.
Sungguh ironis melihatnya. Negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia justru bangga dengan budaya jahiliyah ini. Nilai keislaman justru memudar secara totalitas. Mereka telah lupa akan kejayaan Islam dengan cara islam sendiri bukan jalan pemikiran orang kafir. Agama ini telah dicampuradukkan secara sporadis sesuai kehendak nafsu.
Tahun baru berarti makin bertambah usia seorang muslim secara kuantitas, tetapi masa penangguhan di dunia tentunya semakin berkurang. Momentum penghujung tahun, seharusnya makin menyadarkan diri untuk memanfaatkan waktu dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat di dunia dan akhirat serta menjauhkan diri dari sesuatu yang membahayakan. Hendaklah kita mengingat masa penangguhan hidup kita di dunia. Sungguh kita semakin mendekati akhir masa penangguhan hidup di dunia ini. Bila senantiasa mengingat hal ini, maka kita akan senantiasa bersemangat mencari bekal untuk mendapatkan kebahagiaan ukhrowi (Akhirat) yang kekal abadi. Berbahagialah dengan keislaman kita. Agama kita berbeda dengan agama lain, sehingga dilarang menyerupai orang kafir, terlebih lagi mengikuti cara beragamanya orang kafir. Pesta jahiliyah menyambut tahun baru bukan cara agama kita. Hendaknya kita berlepas diri dalam menjaga izzah keislaman kita. Namun tahun baru berarti satu langkah pasti menuju kembali kepada Sang pemilik kehidupan. Semoga kita senantiasa mengingat kebesaran dan keagungan-Nya sehingga akan menambah rasa takut, cinta, dan berharap akan Ridho-Nya.
Saudaraku seperjuangan di bumi Allah, Allah telah menganugerahkan dua hari raya kepada kita, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha di mana kedua hari raya ini disandingkan dengan pelaksanaan dua rukun Islam, yaitu ibadah haji dan puasa, serta menebarkan rahmat kepada seluruh makhluk. hanya dua hari raya inilah yang disyariatkan oleh Islam.
Diriwayatkan dari anas Radhiallahu'anhu bahwa ia berkata,"Ketika Nabi shalallahu'alaihi wa salam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya yang mereka bermain-main di hari raya itu pada masa jahiliyah, lalu Beliau bersabda: 'Aku datang kepada kalian sedangkan kalian memiliki dua hari raya yang kalian bermain di hari itu pada masa jahiliyah. dan sungguh Allah telah menggantikannya untuk kalian dengan dua hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu hari raya Idul Adha dan Idul Fitri.'"(Shahih, dikeluarkan oleh Ahmad, Abu Daud, AnNasa'i, dan Al Baghawi)
Maka menjadi tamparan keras bagi umat Islamyang ikut-ikutan merayakan tahun baru karena secara gamblang Islam melarang hal tersebut. Tahun baru adalah hari raya yang tidak ada tuntunannya dalam islam. Di samping itu, perayaan tahun baru sangat kental dengan kemaksiatan dan mempunyai hubungan yang erat dengan perayaan agama lain (non muslim). Pesta tahun baru juga sarat akan budaya jahiliyah yang dapat dihukumi sebagai perbuatan yang sia-sia. Hendaknya janganlah kita isi waktu luang kita dengan hal yang sia-sia yang hanya membawa kita ke jurang kenistaan dan menjadikan kita sebagai insan yang merugi.
Saudaraku, sungguh kenikmatan terbesar yang telah Allah limpahkan kepada umat ini ialah disempurnakannya agama Islam, sehingga tidak lagi membutuhkan tambahan maupun pengurangan. Tak ada lagi yang perlu diragukan. Dari awal muncul sebuah risalah kenabian melalui Rasulullah hingga kemudian menjadi kesempurnaan yang hakiki. Benar, kita dapatkan agama kita ini yaitu agama Islam benar-benar sempurna dari segala sisi pandang, dan segala pertimbangan. Oleh karena itu, syariat Islam senantiasa relevan dengan berbagai perkembangan dan perbedaan yang dilalui oleh umat manusia. Betapa tidak, agama ini adalah agama yang telah Allah jadikan sebagai agama seluruh umat, semenjak diturunkan kepada nabi Muhammad Shalallahu'alaihi wa Salam hingga akhir zaman. Ikutilah apa yang Rasulullah tuntunkan kepada kita. Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia merupakan bagian dari kaum tersebut (Hadits dari Ibnu Umar dengan sanad hasan). Setiap diri kita adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.Semoga Allah menjaga eksistensi agama ini hingga akhir zaman nanti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar